 |
Petuah berakit-rakit ke hulu
berenang-renang ke tepian, benar-benar dihayati
oleh Megawati. Maklum, pada masa Orde Baru,
hidupnya benar-benar kelam. Semenjak ayahnya,
Soekarno, dilengserkan, hak-hak keluarganya
dipangkas pemerintah Orde Baru. |
Bahkan untuk sekadar berpolitik, mega tak
luput dari incaran. Tampilnya ia ke pucuk
pimpinan PDI, membuat Orba blingsatan. Berbagai
cara pun dilakukan untuk mendongkelnya, termasuk
penyerbuan kantor PDI, 27 Juli 1997, hingga
berujung pada perpecahan PDI menjadi PDI dan
PDI Perjuangan (PDIP).
Kini semua bayangan itu hilang. Begitu Gus
Dur tak memuaskan anggota MPR, Mega pun didaulat
menjadi presiden. Walau pribadinya terkesan
pelit bicara, faktanya pada masa kepemimpinan
Mega, pertumbuhan ekonomi negara mulai maju.
Kondisi politik pun relatif stabil.
Meski pun demikian, bukan berarti yang muncul
adalah puji-pujian. Berdiri di menara gading
membuat Mega menjadi sasaran tembak. Ia masih
dinilai lambat dalam penegakan hukum, tak
mampu bersikap tegas, hingga lunturnya komitmen
untuk membela wong cilik.
Apalagi, fakta ia tak lagi mau mengingat peristiwa
27 Juli. Tak urung kecaman pun muncul. Walau
begitu, dengan percaya diri, PDIP masih akan
mengajukan sosok kelahiran 23 Januari 1947
ini, sebagai capres 2004.
|
|